twitter
rss

              software - software gratis mulai a - z

A Msn Portable - 0.97.2 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=1155)
A-Z iPhone Video Converter - 4.68 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=855)
A-Z Video Converter - 8.25 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=853)
AAA Photo Album Portable - 2.10 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=1189)
Abexo Registry Cleaner - 5.3.1.0 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=801)
Able Batch Converter - 3.1.10.12 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=1066)
Absolute Sound Recorder - 3.6.4 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=147)
Absolute Video Converter - 3.1.1 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=897)
Absolute Video to Audio Converter - 3.1.1 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=896)
Abstrakt Tema - 1.0 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=364)
Acala DVD Ripper Pro - 5.7.8 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=596)
ACDSee Pro - 2.5.333 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=645)
Ace Optimizer Utilities - 4.2.0.457 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=805)
Ace Translator - 5.0 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=1018)
Acoustica Premium Portable - 4.1.0.369 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=935)
Acronis True Image Home - 2009 (www.downpanel.com/?DownPanel=detail&git=999)

                                            Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

                                                Baca dan Renungkan

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.
Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .........

Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.

Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

                                                   INDAHNYA MENAHAN MARAH

    "Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian  makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

    Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.

    Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.

PENYEBAB ANAK SULIT MAKAN
Senangnya hati setiap orang tua kala melihat bayinya yang masih berusia 5-7 bulan menyantap bubur susu maupun bubur saringnya dengan lahap. Begitu juga saat si kecil sudah mulai diperkenalkan dengan nasi tim yang diblender. "Pintar anak Bunda. Makannya hebat, jagoan deh," begitu puji si ibu setiap kali bayinya yang berusia 9-10 bulan menyantap bersih isi mangkuk berupa tim lengkap dengan lauk ayam, kacang hijau, wortel dan bayam atau kangkung.

OBAT UTAMA:

   - Diabeticaps
   - Habbat   Extract
   - Momordicae Folia

OBAT PENDUKUNG:
  - Madu   Sehat
  - Nutrivit
  - susu kambing

TERAPI MEDIS:
   - Bekam
   - Accupresure
   - Accupunkture

   - Perbaiki pola makan, antara lain dengan menghindari gula, konsumsi karbohidrat komplek (umbi-umbian, nasi),
menurangi tepung.
  - Olahraga teratur (minimal 3 kali semingu)

TERAPI ROHANI
  - Tahajud (sangat dianjurkan)
  - Puasa Sunnah (minimal Senin-kamis)
  - Perbanyak baca Al-Quran (dapat memperbaiki kualitas darah)
  - Perbanyak Sedekah

TERAPI JUS:

  - Pare (1 bh) + kacang panang (3 bh) + toge (segenggam) + wortel (1bh) + madu (secukupnya), semua sayuran dalam
keadaan mentah, jangan dimasak/direbus. minum pagi hari sebelum makan dan sore hari.
kliniksehat.com

1.Pentingnya Pembangunan Karakter

Dahulu, keberhasilan anak-anak dianggap sebagai akibat dari tingginya tingkat IQ, sehingga fokus pendidikan lebih dititik-beratkan pada aspek akademik saja. Namun kepercayaan itu sudah tergoyahkan, sebab ternyata IQ hanya memberikan kontribusi 20% saja dari keberhasilan manusia di masyarakat, sedangkan 80% lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ) (Goleman dalam Megawangi, 2010). Kecerdasan emosi adalah karakter atau dalam bahasa agamanya akhlak mulia.
Hasil penelitian George Boggs juga menunjukkan bahwa ada 13 faktor penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, dan ternyata dari 13 faktor tersebut, 10 diantaranya (hampir 80%) adalah kualitas karakter seeorang, dan hanya 3 yang berkaiatan dengan faktor kecerdasan (IQ). Faktor-faktor tersebut adalah:
1.Jujur dan dapat diandalkan
2.Bisa dipercaya dan tepat waktu
3.Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
4.Bisa bekerjasama dengan atasan
5.Bisa menerima dan menjalankan kewajiban
6.Mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri
7.Berpikir bahwa dirinya berharga
8.Bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif
9.Bisa bekerja mandiri dengan supervise minimum
10.Dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya
11.Mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan) – IQ
12.Bisa membaca dengan pemahaman memadai – IQ
13.Mengerti dasar-dasar matematika (berhitung) – IQ
Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukakan oleh Thomas Lickona – seorang professor pendidikan dari Cortland University. Lickona (dalam Megawangi, 2010) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

ANAK ALAMI KEKERASAN? SIMAK CIRI-CIRINYA


Kisah nyata ini dialami oleh seorang ibu yang tinggal di ibu kota. Ia mengeluhkan sikap anaknya yang tiba-tiba sulit disuruh mandi. "Baru diminta buka baju saja susah sekali." Tidak hanya itu, si kecil juga terlihat ketakutan saat bersentuhan dengan air. "Dia selalu menjerit-jerit begitu melihat air dalam bak mandi." Si ibu pantas heran, sebab sebelumnya si kecil tidak bersikap seperti itu.
Akhirnya, setelah mencari tahu penyebabnya, ia kaget bukan alang kepalang. "Anak saya sering dimandikan secara paksa oleh pengasuhnya. Bahkan si pengasuh kerap mengguyurkan air sehingga si kecil kesulitan bernapas," tuturnya dengan mimik sedih. Akibatnya, si kecil tidak hanya sulit disuruh mandi tapi juga takut terhadap air. Sayangnya lagi, informasi itu baru diketahui si ibu setelah si pengasuh tak lagi bekerja di situ. "Anak saya baru berterus terang saat pengasuhnya sudah tidak ada di rumah. Sewaktu si pengasuh masih ada di rumah, dia tak pernah berani cerita apa-apa."
Hal itu ada benarnya. Pendapat psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), Muhammad Rizal, Psi., setidaknya bisa dijadikan gambaran. Kekerasan pada anak, katanya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kekerasan fisik (KF) dan kekerasan non-fisik (KNF). Kekerasan Fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain.

BERBAGAI PROGRAM PEMBELAJARAN DEMI MEMBANGUN POTENSI DAN KARAKTER ANAK PADA USIA EMAS
.Upaya membangun karakter dilaksanakan melalui dua pendekatan yaitu, proses intervensi dan pembiasaan. Proses intervensi dikembangkan dan dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dengan menerapkan berbagai kegiatan terstruktur. Dalam proses pembelajaran tersebut guru sebagai pendidik sekaligus sebagai sosok panutan.

Sedangkan melalui proses pembiasaan atau habituasi, diciptakan dan ditumbuhkan aneka situasi dan kondisi yang berisi aneka penguatan yang memungkinkan siswa di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai yang diharapkan. Menurut Mendiknas Mohammad Nuh, budaya sekolah perlu dibangun, karena kepribadian itu tidak hanya tumbuh dari dalam sendiri, tetapi dipengaruhi juga oleh berbagai macam interaksi.
Kegiatan pendidikan karakter dilaksanakan dalam tiga ranah. Pertama, pengembangan nilai-nilai karakter yang diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas. Ranah kedua, memadukan pendidikan karakter dengan aktivitas ko-kurikuler, ekstrakurikuler maupun budaya sekolah. Ranah ketiga, melibatkan wali murid untuk turut membangun pembiasaan yang selaras dengan yang dikembangkan di sekolah (lihat gambar di bawah) .
Berdasarkan hal tersebut di atas, timbul pertanyaan bagaimana proses pendidikan karakter dilaksanakan? Ada beberapa hal yang dapat penulis tawarkan dalam pelaksanaan pendidikan karakter pada usia emas agar dapat berjalan dengan efektif. Berbagai program yang akan dipaparkan di bawah ini, berdasarkan pengalaman penulis di TK Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya. Dengan konsep joyfull learning, siswa menjadi riang dalam berkegiatan. Serta memanfaatan alam sebagai sumber inspirasi belajar untuk pengembangan potensi dan karakter siswa.

1.Pentingnya Pembangunan Karakter
Dahulu, keberhasilan anak-anak dianggap sebagai akibat dari tingginya tingkat IQ, sehingga fokus pendidikan lebih dititik-beratkan pada aspek akademik saja. Namun kepercayaan itu sudah tergoyahkan, sebab ternyata IQ hanya memberikan kontribusi 20% saja dari keberhasilan manusia di masyarakat, sedangkan 80% lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ) (Goleman dalam Megawangi, 2010). Kecerdasan emosi adalah karakter atau dalam bahasa agamanya akhlak mulia.
Hasil penelitian George Boggs juga menunjukkan bahwa ada 13 faktor penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, dan ternyata dari 13 faktor tersebut, 10 diantaranya (hampir 80%) adalah kualitas karakter seeorang, dan hanya 3 yang berkaiatan dengan faktor kecerdasan (IQ). Faktor-faktor tersebut adalah:
1.Jujur dan dapat diandalkan
2.Bisa dipercaya dan tepat waktu
3.Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
4.Bisa bekerjasama dengan atasan
5.Bisa menerima dan menjalankan kewajiban
6.Mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri
7.Berpikir bahwa dirinya berharga
8.Bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif
9.Bisa bekerja mandiri dengan supervise minimum
10.Dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya
11.Mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan) – IQ
12.Bisa membaca dengan pemahaman memadai – IQ
13.Mengerti dasar-dasar matematika (berhitung) – IQ
Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukakan oleh Thomas Lickona – seorang professor pendidikan dari Cortland University. Lickona (dalam Megawangi, 2010) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda-tanda tersebut sudah ada di Indonesia, dan inilah mungkin yang menyebabkan mengapa Indonesia masih tertinggal secara sosial-ekonomi dibandingkan negara-negara tetangga di AsiaTenggara. Hal ini sejalan dengan pendapat Lickona, bahwa “Sebuah peradaban akan menurun apabila demoralisasi pada suatu bangsa telah terjadi”.
Oleh karena itu, program pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah adalah sangat tepat, untuk menyelamatkan bangsa ini. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi,masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat (Balitbang Kemendiknas, 2010: 1)
Menurut Ratna Megawangi, anak yang kualitas karakternya rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah, sehingga anak beresiko besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini, maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

MEMBANGUN KARAKTER PADA USIA EMAS

A. LATAR BELAKANG
Ada setumpuk harapan disandarkan kepada dunia pendidikan. Para orang tua kerap berharap, mampukah pendidikan mencetak generasi yang berkarakter kuat? Bilakah pendidikan mampu menghasilkan orang-orang yang berintegritas tinggi di negeri ini? Sebuah keinginan yang boleh jadi terdengar berlebihan, meskipun sesungguhnya wajar, mengingat pendidikan memanglah tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan sumber daya manusia dan problem kemasyarakatan. Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Muara ranah kognitif adalah tumbuh dan berkembangnya kecerdasan dan kemampuan intelektual akademik, ranah afektif bermuara pada terbentuknya karakter dan kepribadian, dan ranah psikomotorik akan bermuara pada keterampilan vokasional dan perilaku. Mengikuti kerangka berfikir seperti ini, sudah selayaknya pendidikan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan.
Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.