1.Pentingnya Pembangunan Karakter
Dahulu, keberhasilan anak-anak dianggap sebagai akibat dari tingginya tingkat IQ, sehingga fokus pendidikan lebih dititik-beratkan pada aspek akademik saja. Namun kepercayaan itu sudah tergoyahkan, sebab ternyata IQ hanya memberikan kontribusi 20% saja dari keberhasilan manusia di masyarakat, sedangkan 80% lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ) (Goleman dalam Megawangi, 2010). Kecerdasan emosi adalah karakter atau dalam bahasa agamanya akhlak mulia.
Hasil penelitian George Boggs juga menunjukkan bahwa ada 13 faktor penunjang keberhasilan seseorang di dunia kerja, dan ternyata dari 13 faktor tersebut, 10 diantaranya (hampir 80%) adalah kualitas karakter seeorang, dan hanya 3 yang berkaiatan dengan faktor kecerdasan (IQ). Faktor-faktor tersebut adalah:
1.Jujur dan dapat diandalkan
2.Bisa dipercaya dan tepat waktu
3.Bisa menyesuaikan diri dengan orang lain
4.Bisa bekerjasama dengan atasan
5.Bisa menerima dan menjalankan kewajiban
6.Mempunyai motivasi kuat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri
7.Berpikir bahwa dirinya berharga
8.Bisa berkomunikasi dan mendengarkan secara efektif
9.Bisa bekerja mandiri dengan supervise minimum
10.Dapat menyelesaikan masalah pribadi dan profesinya
11.Mempunyai kemampuan dasar (kecerdasan) – IQ
12.Bisa membaca dengan pemahaman memadai – IQ
13.Mengerti dasar-dasar matematika (berhitung) – IQ
Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukakan oleh Thomas Lickona – seorang professor pendidikan dari Cortland University. Lickona (dalam Megawangi, 2010) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Jika dicermati, ternyata kesepuluh tanda-tanda tersebut sudah ada di Indonesia, dan inilah mungkin yang menyebabkan mengapa Indonesia masih tertinggal secara sosial-ekonomi dibandingkan negara-negara tetangga di AsiaTenggara. Hal ini sejalan dengan pendapat Lickona, bahwa “Sebuah peradaban akan menurun apabila demoralisasi pada suatu bangsa telah terjadi”.
Oleh karena itu, program pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah adalah sangat tepat, untuk menyelamatkan bangsa ini. Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi,masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat (Balitbang Kemendiknas, 2010: 1)
Menurut Ratna Megawangi, anak yang kualitas karakternya rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah, sehingga anak beresiko besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini, maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
2.Membangun Manusia Berkarakter
Sebagai suatu konsep akademis, karakter memiliki makna substantif dan proses psikologis yang sangat mendasar. Aristoteles menyebut pengertian karakter yang baik adalah kehidupan berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta), dan terhadap diri sendiri (Kemendiknas, 2010:14).
Menurut Ratna Megawangi, karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk pola. Mempunyai akhlak mulia adalah tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan (proses “pengukiran”) dimulai sejak anak dilahirkan.
Dalam istilah bahasa Arab karakter ini mirip dengan akhlak (akar kata khuluk), yaitu tabiat atau kebiasaan melakukan hal yang baik. Al Ghazali menggambarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit), sehingga sifat anak sudah terukir sejak kecil. Tuhan menurunkan petunjuk melalui para Nabi dan Rasul-Nya untuk manusia agar senantiasa berperilaku sesuai dengan yang diinginkan Tuhan sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini.
Singkatnya membangun karakter memerlukan sebuah proses yang simultan dan berkesinambungan melibatkan seluruh aspek yaitu tahu arti kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik (Lickona dalam Kemendiknas , 2010).
Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Karakter harus dibangun sejak dini. Menurut Montessori otak anak seperti “the absorbent mind”. Bahkan bayi yang berusia 2-3 minggu sudah mampu meniru mimik muka orang tua disekitarnya. Masa-masa dimana anak cepat sekali meniru, maka memberikan pendidikan karakter sedini mungkin penting dilakukan. Ibaratnya, otak anak adalah sponge. Sponge yang kering kalau dimasukkan ke dalam air akan cepat sekali menyerap air. Seandainya sponge itu diletakkan di air jernih, yang diserap juga air jernih. Jika diletakkan diair selokan, yang diserap juga air selokan. Inilah sebabnya, begitu efektifnya kita mengajar anak-anak usia dini tentang hal-hal yang baik. Pada masa emas ini kita coba memberikan sebanyak mungkin air jernih (kebaikan) kepada anak agar dampaknya dalam otak anak adalah kejernihan (yang baik-baik saja).
Untuk membangun kepribadian/karakter diperlukan kerjasama dari semua pihak, baik keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat dan lingkungan.
3.Nilai-Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa diidentifikasikan dari sumber-sumber berikut ini:
a.Agama
b.Pancasila
c.Budaya
d.Tujuan Pendidikan Nasional
Berdasarkan keempat sumber nilai di atas , teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter bangsa sebagai berikut ini.
a. Religius: Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Jujur : Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c. Toleransi: Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d. Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e. Kerja Keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
f. Kreatif : Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
g. Mandiri : Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
h. Demokratis : Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama
Hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
i. Rasa Ingin Tahu : Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatuyang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
j. Semangat Kebangsaan : Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
k. Cinta Tanah Air : Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkankesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
l. Menghargai Prestasi : Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
m. Bersahabat/Komuniktif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,
bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
n. Cinta Damai : Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
o. Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
p. Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q. Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
r. Tanggung-jawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
( Balitbang Kemendiknas, 2010 : 8)
Catatan:
Sekolah dan guru dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
