twitter
rss

MEMBANGUN KARAKTER PADA USIA EMAS

A. LATAR BELAKANG
Ada setumpuk harapan disandarkan kepada dunia pendidikan. Para orang tua kerap berharap, mampukah pendidikan mencetak generasi yang berkarakter kuat? Bilakah pendidikan mampu menghasilkan orang-orang yang berintegritas tinggi di negeri ini? Sebuah keinginan yang boleh jadi terdengar berlebihan, meskipun sesungguhnya wajar, mengingat pendidikan memanglah tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan sumber daya manusia dan problem kemasyarakatan. Pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Muara ranah kognitif adalah tumbuh dan berkembangnya kecerdasan dan kemampuan intelektual akademik, ranah afektif bermuara pada terbentuknya karakter dan kepribadian, dan ranah psikomotorik akan bermuara pada keterampilan vokasional dan perilaku. Mengikuti kerangka berfikir seperti ini, sudah selayaknya pendidikan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan.
Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.



Namun, dunia pendidikan terkesan mengabaikan hal-hal tersebut. Sekolah kini lebih sibuk dengan sisi akademik agar siswa mendapat nilai tinggi. Keberadaan nilai-nilai moral dan karakter mulai dipertanyakan kembali ( Kemendiknas, 2010: 5). Pendidikan selama ini hanya menekankan pada kecerdasan intelektual dan seakan mengabaikan adanya kecerdasan lain yang jauh lebih penting. Sehingga kejujuran, komitmen, keuletan, kerjakeras hingga kesalehan seolah lepas dari masalah pendidikan.
Tingginya harapan masyarakat terhadap dunia pendidikan tersebut dipicu oleh kenyataan masih senjangnya harapan dengan kenyataan di lapangan. Harus diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan, bahkan pesat. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan. Peningkatan anggaran pendidikan jelas wujud nyata dari tekad Pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan. Prestasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di berbagai ajang kompetisi internasional juga membanggakan.
Di sela-sela prestasi gemilang tersebut , masih terpampang sisi buram realitas yang terdapat di masyarakat. Informasi dari Balai Diklat Badan Narkotika Nasional, menyebutkan , terdapat sekitar 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia (Tempo Interaktif, 27/8/2009). Tingkat kriminalitas anak-anak dan remaja sangat tinggi dan jumlah mereka yang masuk penjara lebih dari satu juta orang (Harry Hikmat, Direktur Anak Depsos, Waspada, 11 Maret 2009). Mengapa pula banyak anak remaja tidak merasa bersalah jika berbohong, rendah rasa hormat kepada orang tua dan guru, pecandu minuman keras, sering membolos sekolah, tidak mengerjakan tugas sekolah, memalak teman sekelas dan sebagainya. Dan lebih jauh lagi mengapa pendidikan yang kini tumbuh berkembang dengan pesat, justru berefek melahirkan banyaknya koruptor. Memang tidak semua koruptor, tetapi para pelaku korupsi justru orang-orang yang pada umumnya menyandang berbagai gelar pendidikan.
Banyak kalangan yang menilai bahwa pendidikan nasional dianggap gagal dalam membentuk watak/karakter dan moral anak bangsa. Atau lebih tepatnya sekolah-sekolah belum seluruhnya berhasil melahirkan anak-anak yang berbudi pekerti luhur. Oleh karena itu, harus ada yang perlu diubah yaitu bagaimana pendekatan, metode dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Karena hal inilah yang sesungguhnya menentukan efektivitas dan efisiensi pembentukan kepribadian anak manusia.
Model pendidikan karakter merupakan jawaban atas sistem pendidikan di Indonesia yang lebih menekankan aspek kognitif dibandingkan aspek kecerdasan emosi, sosial, motorik, kreativitas, imajinasi dan spiritual .Menurut Ratna Megawangi, sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati dan rasa). Padahal, pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan. Pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan “knowledge, feeling, loving, dan acting”.

Dengan menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama dalam pembangunan bangsa harapannya mampu mengembalikan fungsi pendidikan, yaitu tidak hanya untuk membangun kecerdasan intelektual saja, tetapi juga untuk menjadikan manusia Indonesia berkarakter mulia. Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa.
Hal ini sejalan dengan pesan Presiden pada perayaan Hari Raya Nyepi di Jakarta. “Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (Good Society). Dan masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlaq dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula”.
Sudah saatnya dibangun kembali kesadaran akan pentingnya pembinaan karakter bagi manusia Indonesia. Karakter pribadi seseorang sebagian besar dibentuk oleh pendidikannya. Karena itu, untuk membentuk pribadi yang terpuji, tanpa cela, dan bertanggung jawab mutlak dibutuhkan pendidikan yang berkualitas. Untuk memulainya adalah dengan membangun karakter (Kemendiknas, 2010: ix)
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini.. Masa kanak-kanak, usia 0 hingga 6 tahun adalah periode emas pertumbuhan. Inilah masa yang paling tepat untuk mengungkit dan mengembangkan segala potensi dalam dirinya. Psikologi perkembangan menekankan betapa pentingnya masalah pengasuhan dan pembimbingan pada fase golden age ini.Periode inilah yang akan menentukan perkembangan seseorang pada masa dewasa. Menurut Freud, kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).

Bila dalam periode ini anak mendapat stimulus memadai, memperoleh asupan bergizi, serta pola pengasuhan yang tepat, maka perkembangan fisik maupun psikhisnya akan optimal. Sebuah ungkapan bijak juga menegaskan bahwa mendidik anak usia muda itu bagai kita mengukir di atas batu, sedang mendidik orang tua ibarat mengukir di atas pasir. Ukiran di batu pasti lebih membekas dan tahan lama, sementara ukiran di pasir pantai bakal segera sirna disapu ombak lautan.Maka penanaman kebiasaan baik, nilai-nilai moral, hingga ketauhidan pada usia anak lebih melekat, asalkan cara penyampaiannya selaras dengan perkembangan mental anak yang bersangkutan.
Menyadari benar akan pentingnya masa usia emas tersebut, sekolah perlu menyelenggarakan berbagai program pembelajaran demi mengungkit potensi anak didik yang sedang dalam periode emas tersebut. Pengembangan potensi ini tidak hanya dari sisi intelektual saja, tetapi juga mengembangkan sikap, emosi, dan kemampuan motorik, termasuk mengembangkan karakter anak didik. Mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya, maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Segala aktivitas dikemas dalam kegiatan belajar melalui bermain, karena dilandasi pemahaman bahwa dunia anak adalah dunia bermain

1 komentar:

  1. Semoga guru-guru peradapan dunia itu kembali pada sesosok guru-guru yang mengembalikan dunia pendidikan menjadi semakin cemerlang.aamiin...,
    :)

Posting Komentar